Jumat, 10 Juni 2011

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA DALAM KARANGAN SISWA KELAS VII MADRASAH TSANAWIAH JABAL NOER PALEMBANG

BAB 1
PENDAHAULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam proses penguasaan bahasa pertama, tentu saja anak mengalami tahapan tertentu karena pemerolehan bahasa adalah suatu proses pemahaman dan penghasilan bahasa pada manusia dengan melalui beberapa tahap, mulai dari meraban sampai kepada kefasihan penuh. Mulanya anak hanya mendengarkan ujaran yang dikemukakan orang di sekitarnya kemudian dari ujaran yang didengarnya, anak mulai meniru dan akhirnya mengeluarkan ujaran. Mulanya satu kata, dua kata, dan sampai pada akhirnya dapat mengucapkan kalimat seperti orang dewasa.
Memasuki usia sekolah dasar, anak mulai mengenal bahasa selain bahasa pertama. Pada umumnya bahasa tersebut berupa bahasa Indonesia. Dalam hal ini bahasa Indonesia dapat dikatakan sebagai bahasa kedua. Di lingkungan sekolah yang menggunakan bahasa pengantar, bahasa Indonesia, pemakaian bahasa pertama biasanya secara spontan masih digunakan oleh siswa. Akhirnya, sering terjadi ‘pencampuran bahasa’ di lingkungan sekolah , baik dalam ujaran maupun tulisan. Dalam konteks tulisan, kesalahan berbahasa yang diakibatkan adanya pengaruh bahasa pertama dapat dilihat dari bentuk tulisan siswa yang berupa karangan. Dengan bahasa tertulis, bukti analisis akan dapat dilampirkan.
Oleh karena itu, makalah ini mengambil sampel tulisan atau karangan siswa sekolah dasar, yaitu karangan siswa kelas VII MADRASAH TSANAWIYAHSDN JABAL NOER PALEMBANG sebagai bahan analisis pengaruh bahasa pertama terhadap bahasa kedua.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Rumusan makalah dalam makalah ini adalah bagaimanakah pengaruh bahasa pertama terhadap bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas VII MADRASAH TSANAWIYAHSDN JABAL NOER PALEMBANG.
1.3 TUJUAN
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh bahasa pertama terhadap bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas VII MADRASAH TSANAWIYAHSDN JABAL NOER PALEMBANG.

1.4 MANFAAT
Dengan adanya makalah ini, diharapkan pembaca dapat menganalisis pengaruh bahasa pertama terhadap bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas IV SDN 5 Campang Tiga Kec. Cempaka Kab. OKU Timur.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA
2.1.1 Kesalahan Berbahasa
Kesalahan berbahasa merupakan sisi yang mempunyai cacat pada ujaran atau tulisan pelajar. Kesalahan berbahasa atau language errors beraneka ragam jenisnya dan dapat dikelompokkan dengan berbagai cara.
Pertama, kesalahan yang disebabkan unsur kelelahan, keletihan, dan kurangnya perhatian yang disebut sebagai unsure performansi yang merupakan kesalahan penampilan atau dalam kepustakaan disebut mistake. Keterbatasan mengingat sesuatu atau kelupaan menyebabkan kekeliruan dalam melafalkan bunyi bahasa, kata, urutan kata, atau kalimat dan sebagainya. Tekanan psikologis, seperti emosi dapat menimbulkan salah ucap. Kekeliruan dapat diperbaiki siswa, bila siswa mawas diri dan lebih memusatkan perhatian. Siswa sebenarnya sudah mengetahui sistem linguistik bahasa yang digunakan, namun karena sesuatu hal mereka lupa akan sistem tersebut, karena itu kekeliruan bersifat sementara, tidak sistematis, dan perbaikiannya dapat dilakukan sendiri oleh siswa.
Kedua, kesalahan yang disebabkan kurangnya pengetahuan kaidah-kaidah bahasa yang disebut sebagai unsur kompetensi yang merupakan penyimpangan-penyimpangan sistematis yang disebabkan oleh pengetahuan pelajar yang sedang berkembang mengenai unsur bahasa kedua disebut errors. Siswa memang belum memahami unsur linguistik bahasa yang digunakannya. Kesalahan dapat berlangsung lama apabila tidak diperbaiki. Perbaikan dilakukan guru dengan pengajaran remedial, latihan dan sebagainya. Kesalahan merupakan gambaran terhadap pemahaman siswa atas sistem bahasa yang sedang dipelajari. Bila tahap pemahaman siswa kurang, maka kesalahan sering terjadi, dan sebaliknya bila pemahaman semakin meningkat, maka kesalahan akan berkurang. Kesalahan bersifat permanen, sistemetis, perbaikannya memerlukan bantuan guru dan menggambarkan kemampuan pada tahap tertentu.
2.1.2 Jenis Kesalahan Berbahasa
Secara garis besar, kesalahan berbahasa dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1) Kesalahan antarbahasa (interlangguage errors), yaitu kesalahan yang disebabkan oleh interferensi bahasa ibu siswa terhadap B2 siswa yang dipelajari.
2) Kesalahan intrabahasa (intralingual), yaitu kesalahan yang merefleksikan unsure ciri umum kaidah yang dipelajari, seperti kesalahan generalisasi, aplikasi tidak sempurna terhadap kaidah-kaidah, dan kegagalan mempelajari kondisi penerapan-penerapan kaidah.
2.1.3 Konsep Analisis Kesalahan Berbahasa
Dalam studi pemerolehan, analisis yang berusaha memetakan kesalahan berbahasa dikenal sebagai Analisis Kesalahan Berbahasa (Anakes). Konsep dasar analisis kesalahan berbahasa seperti yang dikemukakan Kridalaksana (1984), “Analisis kesalahan berbahasa adalah teknik untuk mengukur kemajuan belajar bahasa dengan mencatat dan mengklasifikasi kesalahan-kesalahan yang dibuat seseorang atau sekelompok.”
Kesalahan berbahasa Indonesia seperti yang dikatakan Syafe’√≠ (1984: 102) adalah pemakaian unit-unit kebahasaan yang meliputi bentukan kata, kalimat, serta pemakaian ejaan dan tanda baca yang melanggar kaidah-kaidah bahasa. Kaidah yang digunakan sebagai standar acuan dan menentukan unsur kesalahan berbahasa yang diperbuat oleh pemakai bahasa Indonesia adalah kaidah bahasa Indonesia dalam pemakaian ragam bahasa Indonesia baku yang digunakan pada situasi formal, baik secara lisan maupun tulisan.
2.1.4 Analisis Kontrastif
Analisis kontrastif adalah kegiatan yang mencoba membandingkan struktur bahasa pertama (B1) dengan struktur bahasa kedua (B2) untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan kedua bahasa itu.
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Ali (1987:120) menyatakan bahwa metode deskriptif adalah metode yang berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang dihadapì dengan cara mengumpulkan data, mengklasifikasikan data, menganalisis, menginterpretasikan data, dan membuat kesimpulan serta laporan.
Dengan menggunakan metode deskriptif diharapkan dapat membantu mendeskripsikan pengaruh bahasa pertama dalam karangan siswa kelas IV SDN 5 Campang Tiga Kec. Cempaka Kab. OKU Timur.
3.2 Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah karangan siswa kelas IV SDN 5 Campang Tiga Kec. Cempaka Kab. OKU Timur. Siswa kelas IV berjumlah 20 orang dan 2 siswa
3.3 Teknik Pengumpulan Data
3.3.1 Tes mengarang
Penelitian dilakukan pada siswa kelas IV SDN 5 Campang Tiga Kecamatan Cempaka Kabupaten OKU Timur. Siswa kelas IV berjumlah 20 orang.
3.4 Teknik Analisis Data
Setelah data hasil tes mengarang terkumpul, selanjutnya dilakukan kegiatan pengolahan data. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kesalahan berbahasa dan analisis kontrastif. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data hasil tes mengarang adalah sebagai berikut.
1) Membaca dan memahami karangan siswa. Data yang sudah diperoleh melalui tes mengarang, dibaca dan dipahami satu per satu.
2) Mengelompokkan hasil karangan siswa.
3) Mengidentifikasi unsure-unsur kesalahan morfologi dan ejaan.
4) Melakukan analisis kontrastif kesalahan, yaitu dengan membandingkan struktur bahasa pertama siswa dengan struktur bahasa Indonesia.
5) Membuat kesimpulan. Menyimpulkan hasil analisis data berupa penyimpangan (kesalahan) berbahasa yang terdapat dalam karangan siswa, apakah akibat pengaruh bahasa pertama siswa itu sendiri atau bukan.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHSAN PENGANALISISAN
4.1 KESALAHAN EJAAN
4.1.1 Keasalahan Tulisan
a) Penulisan Judul
Hampir semua judul karangan siswa ini tidak sesuai dengan tata bahasa indonesia yang telah ditetapkan, sperti.
a) memancing di laut musi, Seharusnya: Memancing di Laut Musi (karangan Andika)
b) Jatuh bersepeda, Seharusnya: Jatuh Bersepeda (karangan Dendi)
c) pulau Dewata, seharusnya: Pulau Dewata (karangan Maya)
Dari 35 karangan yang judulnya sudah benar hanya ada 3 orang siswa, yaitu Minanta, Herliana, Leni Andrian.
b) Paragraf
Ada karangan siswa yang tidak menggunakan paragraf. Karangan itu terdapat pada karangan: Herliana, Musum Minarta, Koko, Oktavia, Aleksander, Verim, Muslim Bahaduri, Mutiah, Murina, Muhajirullah dan Andika.
c) Penulisan Huruf Kapital
Keslahan ini juga merupakan keslahan yang banyak ditemui dalam analisis seperti yang terjadi pada karangan siswa berikut ini:
a) PaDa HaRi minggu,....... (karangan Muslim)
Seharusnya: Pada hari minggu,.....
b) Pada hari libur sekolah nanti ingin Sekali Pergi ke Rumah kakekku.... (karangan Sangkut Apriadi)
Seharusnya: Pada hari libur nanti ingin sekali pergi ke rumah kakekku
c) 3 bulan kemudian tanaman saya menghasilkan buah-buahan yang sangat lezat. allah maha pengasih lagi maha penyanyang.
Seharusnya: 3 bulan kemudian tanaman saya menghasilkan buah-buahan yang sangat lezat. Allah maha pengasih lagi maha penyayang.
d) Penulisan Kata Depan
Kata depan di, ke, dari, dtulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kat yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada, dan daripada. Namun, siswa masih sering salah dalam menuliskannya, anataralain:
a) kerumah , seharusnya ke rumah (karangan Fitri)
b) kesana, seharusnya ke sana (karangan Sudinan)
c) didepan, seharusnya di depan (Pait Ranang Arinsah)
d) di pandang, seharusnya (dipandanga Anita)
Dari hasil analisis, dapat diketahui bahwa pada kleas VII, siswa belum menguasai ejaan. Ini terlihat dari data 35 karangan siswa ini hanya ada 1 karangan yang sudah dapat dikategorikan sesuai dengan EYD, yaitu karangan Leni Andriani. Itupun kalau kalau dicermati, karangannya hasil melihat dari buku dan pada judulnya pun masih dituli salah.
4.1.2 Kesalahan Penggunaan Tanda Baca
Kesalahan tanda baca merupakan keslahan yang banyak ditemui pada karangan siswa kelas VII ini. Bahkan, ada karangan siswa yang tidak menggunakan tanda titikn (.) atau ada, tetapi cuman satu atau dua saja, itupun penggunaannya masih salah. Hal seperti ini dapat dilihat pada karangan: Aleksandra, Rena Kastila, Murina, Mutiah, Verim, dan Muslim Bahaduri.
Hal di atas, bukan berarti pada karangan siswa yang lain sudah dikategorikan benar. Hanya saja, kesalahan pada karangan siswa yang lain tidak sebanyak atau “separuh” karangan siswa yang disebutkan di atas, misalnya:
a) Kesalahan TandaTitik (.)
Keslahan tanda titik yang dimaksud pada intinya ada dua yang dapat ditemukan pada karangan siswa kls VII ini, antara lain:
Pertama, siswa menggunakan tanda titik bukan pada tempatnya.
misalakn: Pada hari yang ke 5. Saya pergi kekebuyn itu membawa alat alat rumput. Untuk rumput. (karangan Enie Hartati)
Seaharusnya: Pada hari yang ke-5, saya pergi ke kebun itu membawa alat-alat rumput untuk merumput.
Kedua, siswa yang tidak menggunakan tanda titik (.) pada suatu kalimat yang menpunyai satun kesatuan makna.
Conotoh: Pada saat Pagi hari saya pergi ke taman kami disana Bermain-mainan yanh Biasa kami main.
Seharusnya: Pada saat pagi hari, saya pergi ke taman. Kami di sana bermain-main yang bisa kami main.
b) Kesalahan Tanda (,)
Dalam karangan sering ditemui siswa salah menggunakan tanda baca. Seharusnya menggunakan tanda titik (.), tetapi yang dipakai justru tanda koma (,) atau sebaliknya. Dari sini dapat diketahui bahwa siswa belum dapat mebedakan pungsi tanda baca.
Misalnya: Pada pagi hari kami Berangkat menujuh rumah nenek saya, (karangan Pait Ranang Ariansah)
Seharusnya: Pada pagi hari kami berangkat untuk menuju rumah nenek saya.
c) Kesalahan Tanda Seru (!)
Contoh : Bertanya ap nak ! (karangan Habib Tro)
Seharusnya : bertanya apa nak ?
d) Kesalahan Penggunaan Tanda Tanya (?)
Ditemui dalam karangan siswa kelas VII ini ada beberapa kalimat yang seharusnya menggunakan tanda tanya (?), tetapi tidak.
Contoh : Apakah kamu mau, lalu Putri tadi menjawab. Saya tidak mau ayah. (karangan Oktavia)
Seharusnya : Apakah kamu mau ? Lalu Putri menjawab, saya tidak mau ayah.
4.1.3 Kesalahan Penulisan Kata
a) Penyingkatan Kata
Dalam karangan siswa kelas VII MTS ini, sering ditemui penyingkatan kata yang tidak sesuai dengan EYD antara lain:
a) “dr” : ‘dari’, seharusnya “dari” (karangan Hailul)
b) “dgn” : ‘dengan’, seharusnya “dengan” (karangan Neli Ruhmaini)
c) “ttp” : ‘tetapi’, seharusnya “tetapi” (karangan Umiraini)
d) “pd” : ‘pada’ , seharusnya “pada” (karangan Umiraini)
e) “tiba” : ‘tiba-tiba’, seharusnya “tiba-tiba” (karangan Herliana)
f) “dll” : ‘dan lain-lain’, seharusnnya “dan lain-lain” (karangan Andika)
g) “tdk” : ‘tidak’, seharusnya “tidak” (karangan Aleksandra)
h) “yg” : ‘yang’, seharusnya “yang” (karangan Muslim)
i) “bhs” : ‘bahasa’, seharusnya “bahasa” (karangan Muhajirullah)
j) “kpd” : ‘kepada’, seharusnya “kepada” (karanngan Umiraini)
b) Penghilangan dan Penambahan Huruf dalan Kata
Dalam karangan siswa masih banyak ditemui kesalahan penulisan kata. Kesalahan tersebut berupa penambahan atau pengurangan huruf pada suatu kata seperti:
a) “suda” : ‘sudah’, seharusnya “sudah” (karangan Darus)
b) “sawa” : ‘sawah’, seharusnya “sawah” (karangan Dendi)
c) “iya” : ‘ia’, seharusnya “ia” (karangan Anita)
d) “sala” : ‘salah’, seharusnya “salah” (karanngan Anita)
e) “ulu” : ‘hulu’, seharusnya “hulu” (karangan Anita)
f) “ilir” : ‘hilir’, seharusnya “hilir” (karanngan Anita)
g) “siyang” : ‘siang’, seharusnya “siang” (karangan Samsul)
h) “soreh” : ‘sore’, seharusnya “sore” (karangan Khoirul)
i) “laluh”: ‘lalu’, seharusnya “lalu” (karangan Murina)
j) “pulah” : ‘pula’, seharusnya “pula” (karangan Habib Tro)
Jika dilihat dari contoh diatas dapat disimpulkan bahwa keslahan tersebut terjadi karena bertemunya huruf “h” dengan huruf “a”, “i”, “u”,“e’ dan bertemunya antara huruf “i” dan “y” yang berada pada satu suku kata. Namun,ada juga kesalahn tulisan seperti “karna” : ‘karena’ (karangan Sangkut), “kalun” : ‘kalung’ (karangan Naswati) yang belum bisa diidentifikasi penyebabnya karena data tersebut tidak banyak ditemui. Bisa jadi karena tidak ketelitian siswa. Selain itu, ada juga kesalahan dalam penggunaan huruf, misalnya : maapkan, seharusnya maafkan (karangan Mutiah).
c) Pemisahan Afiks dan Pronomina dari Kata dan Pemecahan Kata
Contoh pemisahan afiks dan pronomina dari kata:
a) “terkait”, seharusnya “terkait” (karangan Anita)
b) “orang tua nya”, seharusnya “orang tuanya” (karangan Ulin)
c) “salah ku”, seharusnya “salahku” (karangan Nurhaq Sabani)
d) “ibu nya”, seharusnya “ibunya” (karangan Marlan)
e) “kata ku”, seharusnya “kataku” (karangan Hailul)
f) “ber tanya”, Seharusnya “bertanya” (karangan Habib Tro)
g) “se ekor”, seharusnya “seekor” (karangan Samsul)
h) “itu lah”, seharusnya “itulah” (karangan Murina)
Contoh pemecahan kata:
a) “per gi”, seharusnya “pergi” (karangan Rena Kastila)
b) “Melin tas si”, seharusnya “melintassi” (karangan Pait Ranang Ariansah)
c) “be temuh”, seharusnya “bertemu” (karangan Daras)
d) “kelempar”, seharusnya “kelempar” (karangan Andika)

4.2. Analisis Morfologi
4.2.1 Afiks
Analisis yang dilakukan terhadap karangan siswa kelas VII MTS ini, menemukan banyak sekali kesalahan dalam pemakaian afiks. Dapat dilihat padacontoh berikut ini:
a) Lalu pancing saya “kelempar” ke tengah laut (karangan Andika)
Seharusnya: “terlempar”, bukan menggunakan prefiks ke-
b) Kami sekeluarga “menaik” sepeda (karangan Hailal Barokah)
Seharusnya: kata “menaik” tidak perlu di beri awalan me-, jadi cukup digunakan kata “naik”
c) “pakaiyan”
Seharusnya: “pakaian”
4.2.2 Reduplikasi
Sama dengan afiks, dalam analisis juga ditemukan kesalahan reduplikasi dalam hasil karangan siswa MTS kelas VII ini, bisa dilihat pada analisis berikut ini:
a) “pepohon-pohonan”, seharusnya “pohon-pohon” (karangan Anaria)
b) “Bermai-mainan”, seharusnya “bermain” (karangan Marlan)
4.2.3 Kata Majemuk
Dalam analisis data karangan siswa MTS kelas VII ini, penganalisis tidak menemukan siswa yang menggunakan kata majemuk.
Dari analisis morfologi, siswa terlihat lebih baik dari pada penggunaan ejaan. Ini terlihat dari kuantitas siswa yang melakukan kesalahan, yakni ada lima siswa dari tigapuluh lima siswa yang ada. Sementara, untuk penggunaan kata majemuk penganalisisan belum bisa menyimpulkan karena data yang ditemukan belum ada.
4.2.4 Bahasa Daerah dan Bahasa Prokem
Dalam mengarang siswa sering juga menggunakan bahasa daerah dan bahsa prokem (bahasa gaul), seperti yang tertera dalam dat berikut ini:
a) “bertemuh” seharusnya ‘bertemu’
b) “keroan” seharusnya ‘tahu’
c) “pingin” seharusnya ‘ingin’
d) “rameh-rameh” seharusnya ‘ramai’
e) “samperin”
f) “keli” seharusnya ‘lele’
g) “untalkan” seharusnya ‘lemparkan’
h) “mengedok” seharusnya ‘menggali’
i) “sekilu lima mato” seharusnnya ‘satu kilo lima ons’
j) “mengetok” seharusnya ‘mengetuk’
k) “reban” seharusnya ‘sangkar atau kandang’
l) “lawang” seharusnya ‘pintu’
m) “udah” seharusnya ‘sudah’
n) “Ladas”
Namun, jika dicermati kesalahan-kesalahan pada sisiwa setelah penganalisis menganalisisnya melalui karangan ini, bahwa kesalahan yang terjadi pada siswa itu bukan disebabkan oleh PB I, melainkan lebih kepada proses belajar siswa yang mjenjadi pengaruhnya.

BAB 5
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penganalisisan yang telah dilakukan yaitu dengan melalui analisis tes mengarang dengan jumlah 35 siswa kelas VII VII MADRASAH TSANAWIYAHSDN JABAL NOER PALEMBAN, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis siswa masih sangat kurang terutama pada penulisan huruf kapital dan tanda baca. Selain itu, ternyata masih terdapat pengaruh bahasa pertama terhadap bahasa Indonesia dalam penulisan siswa. Namun, ini semua bukan keslahan dari pribadi siswanya itu sendiri melainkan lebih kepada prosesbelajar siswanya yang salah. Oleh sebab itulah, ini perlu di perhatikan dan ditinjak lanjuti agar menjadi lebih baik untuk masa yang akan datang.
Saran
1. Bagi para pengajar bahasa Indonesia hendaknya memperhatikan masalah umum yang sering terjadi dalam penulisan siswa seperti, penulisan huruf kapital, penggunaan tanda baca, bentuk awalan, dan lain-lain.
2. Untuk menghindari pengaruh bahasa daerah, sebaiknya harus sering dilatih atau biasakan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar agar dapat dihindari pemakaiannya baik secara lisan maupun secara tulisan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar